Saya akan mulai dari cerita terakhir saat sebelum banyak orang yang saya tumpahkan. Setelah blog sebelumnya saya agak sedikit-banyak yang tertimbun didalam, meski sekarang masih saja ada yang menjelma menjadi benih keresahan tapi, tidak lebih mekar seperti sebelumnya.
Di semester ini (4) dan sebelumnya (3), jujur saja untuk bergelut didalam bukan hal yang mudah. Mulai dari menjauhi teman selingkup sampai menjadi orang yang enggan dibantu. Entah peduli atau menganggap keanehan terhadap diri saya, beberapa hari kemudian mereka berbondong-bondong ke depan pintu saya dan berlagak seperti Agen FBI yang menginterogasi saya terkait pembunuhan yang terjadi didalam diri saya. Walau hal tersebut terjadi setelah saya menganggap bahwa saya merasa banyak tertinggal dan tidak ditegur namun, saat hal tersebut terjadi lalu ditanyakan "lu kenapa sih?" , dan saat satu kalimat tersebut muncul dalam satu hentakan saya dibuat terdiam dan agak sedikit terpojok karena disatukan sisi saya juga tidak bisa menjelaskan perkara mengapa saya begitu melankolis seperti itu pun. Seketika mata saya buram dan mulai menutupi mata saya yang sudah tertimbun.
Setelah hal tersebut sudah terlewati saya mulai membenahi dan mencari pembunuh diri saya tersebut. Namun, memang di beberapa waktu dia kadang muncul untuk menyabotase kepala dan menyayat amigdala saya. Bayangkan, ketika anda sedang bersama teman-teman anda, tapi anda dibayangkan seperti mereka menganggap anda hanyalah sebagai sebuah analogi berat yang hanya dipahami ketika memang hal tersebut personal. Sampai sekarang hal tersebut masih berlalu-lalang tanpa lampu merah.
Hal trauma tidak akan benar-benar hilang kalau anda hanya terus mencoba mencari tanpa memahaminya, begitupun saya hanya bisa ngomong tanpa menerapkannya. Perihal tersebut hanya beberapa orang yang mulai peduli dan memahami bahkan keluarga terdekat saya sekalipun belum ada yang tahu. Kadang mulut ini tertahan karena takut dianggap omong kosong. Salah satu teman dekat saya di kuliah agak terkaget dan tidak mencoba memberi saran apa-apa karena sudah pasti sama bingungnya dengan diri saya.
Menurut saya, saya sangat beruntung ketika saya dikamar sendirian, satu sampai lima teman saya berusaha menanyakan saya, entah itu "Dimana? Main sini", "Lu lagi ga kenapa-kenapa?", "ke (nama tempat) yok!". Salah satu hal tersebut yang bisa saya banggakan karena masih ada yang mempertanyakan keberadaan dan bahkan keadaan saya. Entah mereka akan membahas keanehan diri saya atau tidak tampaknya tidak sepenting itu namun, memang saya khawatir. Kalau saya boleh membeberkan racun, saya pernah diposisi hancur sehancur-hancurnya manusia tanpa sama sekali menangis hanya meluap amarah, lalu teman-teman saya tanpa ada tahu apa-apa mengajak ke tempatnya atau berkata ingin ke kamar saya, dan pada saat itu juga akhirnya apa yang tertahan bisa mengalir hanya dengan satu kalimat seperti itu dari teman saya.
Makin kebawah makin banyak sekali racun yang akan saya tuangkan atas kekesalan, bersyukur, atau bahkan timbunan sampah didalam saya.
Saya yang pada awalnya hanya menganggap uang 5.000 bukan apa-apanya sama sekali ketika memang ada yang perlu. Menariknya, saat saya digulingkan akhirnya saya berbalik menjadi orang yang menghargai sekecil apapun itu nilainya. Pernah saya tidak makan selama kurang-lebih dua hari perkara finansial, dan tidak berani atau bahkan punya pendirian bahwa saya tidak akan meminjam uang ke siapapun. Dengan prinsip saya sampai sekarang yang masih berkutat dan kontroversial yang sering saya ucapkan ke temen saya yakni "Saya lebih baik mati dalam keadaan perut kosong ketimbang meminjam uang ke siapapun itu".
Di beberapa waktu bahkan sering, saya dalam keadaan kosong entah keberuntungan atau bagaimana saya sangat terbahak-bahak ketika ada saja yang memberi terhadap saya seberapa besar-kecil nya itu namun saya sangat mudah dibuat tawa oleh Tuhan pokoknya dititik ujung jurang sekalipun, selalu saja ada banyak cara secara spiritualitas menarik kaki saya agar terjatuh. Kalau saya mau, bisa saja saya sebutkan orang yang memberi tangan kepada saya saat itu terjadi, tapi sepertinya cukup itu saya teruskan kebaikan untuk orang selanjutnya dan tetap pada prinsip saya seperti itu.
"Di mata orang yang kelaparan, uang sekecil apa pun yang mampu membeli sepotong roti bukanlah sekadar angka, melainkan garis tipis yang memisahkan antara bertahan hidup dan tiada."
— George Orwell (Refleksi dari buku Down and Out in Paris and London)
Bagaimanapun juga saya akui bahwa saya orang yang cukup naif untuk mengutip hal tersebut, tapi apalah daya kalau setiap orang terdekat saya berbuat baik kadang kemanusiaan saya cukup bangkit untuk membentengi hal tersebut.
Per semester ini saya menjadi Ketua dari sebuah organisasi, tidak ada yang bisa dibanggakan selain saya mencoba mengeluarkan kepemimpinan saya. Sedari kecil saya adalah orang yang menyukai karakter pembantu karakter utama atau kedua (deuteragonis) posisi seperti wakil seperti Sasuke, Buzz Lightyear, Loki dan lainnya. Sudah 4 bulan berjalan dan menemukan dua orang yang terlihat seperti punya masalah dengan dirinya sendiri dan orangtuanya, saya mencoba mempelajari itu semua dan tidak pernah memaksa untuk dia bercerita atau bahkan memaksakan untuk memberi saran, saya hanya mencoba teknik self-disclosure reciprocity dan mirroring dalam psikologi komunikasi, self-disclosure reciprocity adalah di mana kita menceritakan kerentanan diri kita untuk membuka benteng atau memancing lawan bicara sedangkan mirroring adalah hal paling dasar komunikasi ketika kita mengikuti atau mengulangi gerakan, posisi duduk, kalimat, atau bahkan kata secara tanpa disadari alam bawah sadar dan sudah saya sering lakukan yang fungsinya untuk membuat mereka merasa terkoneksi atah bahkan merasa bahwa kita itu aman untuk diajak bicara dan dalam kata lain "se-frekuensi".
Setelah mencoba mengobrol entah itu berpengaruh atau tidak kalimat saya namun yang harus saya pahami dengan kejadian saya adalah sekecil apapun yang saya katakan atau orang lain, paling tidak membuat dirinya lebih hidup dan dianggap hadir di dunia ini ditengah kesibukan dunia dengan masing-masing dirinya. Sekiranya saya tahu jika masalahnya berbentuk material tentu saja saya akan mencoba menolongnya.
Di penutupan kali ini saya ingin sekali ngomong dan semoga ada yang melihat. Kalau memang tidak dapat membantu apa-apa, paling enggak coba tanya aja sekecil apapun itu sangat berpengaruh ke kehidupan mereka, entah hanya ngajak bermain game atau bahkan mau cerita ke mereka menurut saya itu yang membuat manusia benar-benar hidup adalah sebuah cerita. Saya hanya mau bilang terimakasih kepada lingkungan yang membuat saya mengamati banyak ragam perilaku layaknya flora dan fauna yang masih banyak belum saya jamah namun, jika siapapun itu yang merasa berpengaruh terhadap hidup saya maka, itu memang kalian tanpa perlu saya menyebutkan.
Radius saya memang tidak sebesar anda yang memiliki lingkungan yang mahir dalam berbagai bidang namun, saya hanya dapat mengetahui bahwa lingkaran kecil saya ini terasa penuh dan berpengaruh terhadap saya. Kalau saya boleh jujur dan agak aneh dan bahkan terkesan "ewwwh". Saya masih hidup berkat kalian entah secara perut atau secara batin. Semoga seterusnya hidup yaa.


